Misa Imlek di Gereja Nandan, Ajak Umat Semakin Lengket pada Allah

Meskipun Hari Raya Imlek telah dirayakan pada Selasa, 17 Februari 2026, Paroki Santo Alfonsus Nandan memfasilitasi umat untuk mengikuti perayaan Misa Imlek pada Minggu, 22 Februari 2026. Sedikitnya, ratusan umat mengikuti perayaan misa dengan meriah di Tengah masa Pra Paskah.

(Suasana Misa Imlek di Nandan)

Nuansa merah mewarnai Misa Imlek tersebut. Seperti yang diketahui, Imlek identic dengan warna merah yang melambangkan kebahagiaan. Pastur Paroki Nandan, Romo AG. Luhur Prihadi, Pr, dalam homilinya mengungkapkan bahwa selain warna merah, Imlek juga identic dengan kue keranjang. 

“Kue keranjang itu identik dengan lengket (teksturnya). Harapannya, makna lengket itu juga diwujudkan dalam kedekatan kita dengan Allah,” katanya.

Sayangnya, terkadang manusia kerap ‘lengket’ dengan godaan-godaan yang justru menjauhkan diri dari Allah. Salah satu contohnya Adalah rasa malas untuk bangun pagi ketika akan misa mingguan.

(Pembagian angpao ke anak-anak yang belum menerima komuni)

Hoki dalam Makna Katolik

Salah satu istilah yang tak lepas dari perayaan Imlek adalah ‘hoki’ atau dalam Bahasa Indonesia bermakna keberuntungan. Romo Luhur mengungkapkan bahwa keberuntungan juga memiliki makna tersendiri dalam Gereja Katolik.

“Orang mendapatkan hoki artinya orang mendapatkan keberuntungan, maka dalam Bahasa katolik itu anugerah dari Allah,” tegasnya. 

Menurutnya, hoki dalam Gereja Katolik tak hanya sekadar keberuntungan. Tetapi bahwa umat Katolik mendapatkan kesejahteraan karena anugerah dari Allah. Dalam sejarahnya, Allah tidak Cuma-Cuma memberikan anugerah pada umat manusia. Ada pengorbanan yang dilakukan yaitu dengan Kristus yang disalib.

(Pembagian Hosti, dilanjtukan pembagian Angpao dan Bingkisan ke Adiyuswa)

Memaknai Rasa dari Jeruk: Simbol Kehidupan yang Manis Selain istilah hoki dan warna merah, jeruk juga menjadi buah yang tidak lepas dari perayaan Imlek. Memiliki rasa yang manis, mengajak umat Katolik memaknai bagaimana membangun relasi dengan Allah dan sesama yang manis.

“Hati kita melekat pada Tuhan, ada simbol jeruk yang manis. Kita juga ingin hidup kita manis,” ujarnya.

(Romo Dandy CSsR, Romo Luhur Pr, dan Romo Oscar SSCC)

Imlek kali ini jatuh di tengah masa Pra-paskah, masa pantang dan puasa selama 40 hari. Romo Luhur mengajak umat Katolik untuk memeriksa diri dan memperbarui hati selama sebulan lebih ke depan.

Ia juga menegaskan bahwa pantang dan puasa bukan hanya sekadar diwajibkan. Makna dari pantang dan puasa yang dijalankan Yesus dahulu, yang kemudian saat ini dijalankan umat Katolik memiliki makna bagaimana menjalin hubungan dengan Allah yang lebih kuat.

(Barongsai ikut perarakan keluar bersama para petugas liturgi)

“Kita diajak untuk mendalami sabda, tekun berdoa, menjalani puasa, sungguh-sungguh menjadi kekuatan kita untuk menghadapi cobaan. Puasa bukanlah rutinitas belaka, jangan hanya dihayati sebatas ‘karena wajib’,” tegasnya.

“Kita memaknai kemenangan, bukan hanya dalam makna lahiriah, tapi dalam artian iman, hidup yang diperbarui, hidup lengket dengan Allah, mendapatkan hal manis karena kita setia dan taat pada Allah,” tutupnya. 

(AAS)

Dokumentasi oleh Tim Komsos Nandan (KOMANDAN)


Posting Komentar

0 Komentar