Misa Kamis Putih "Yesus Datang dengan Segala Kerendahan Hati Untuk Melayani"

Romo Dodit membasuh kaki para rasul

Pada malam hari menjelang sengsara-Nya, Yesus bersama murid-murid-Nya menyelenggarakan perjamuan malam terakhir.  Pada kesempatan itu Yesus membasuh kaki para murid-murid-Nya.

Ritual Perjamuan Malam diperingati sebagai perayaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Pada misa malam ini, pastur juga mencuci kaki umat sebagai peringatan Yesus yang mencuci kaki para muridnya dalam perjamuan terakhir, pelayanan Yesus di dunia sebelum kematian-Nya.

Perayaan misa Kamis Putih (29/3/2018) untuk mengenang sengsara Tuhan Yesus Kritstus diselenggarakan dua kali, dan di pimpin oleh :

  • Misa pertama dipimpin romo Antonius Dodit Haryono, Pr
  • Misa kedua dipimpin romo Paskalis Bayu Edvra, Pr bersama romo Mateus Mali, CSsR.

Misa Kamis Putih Pertama


Dalam homilinya romo Antonius Dodit Haryono, Pr menyampaikan, hari ini merupakan Kamis Putih dengan warna liturgi putih atau krem.  Sebuah ungkapan agar kita mampu menjadikan diri kita tetap putih bersih dengan mengampuni sesama kita.

Pada Kamis Putih ini kita merenungkan Tuhan Yesus yang merendahkan diri untuk melayani dan membasuh kaki murid-murid-Nya. Melalui tindakan tersebut, Yesus mengajak kita untuk mengasihi tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan.

Yesus datang dengan segala kerendahan hati untuk membuka hati dan budi kita, datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

Misa Kamis Putih Kedua

Romo Bayu dan romo Mali memimpin misa Kamis ke-2

Pada misa Kamis Putih yang kedua, romo Bayu mengawali homili dengan pertanyaan "Mengapa tabernakel terbuka dan kosong?"

Inilah ciri khas Tradisi Gereja Katolik pada Liturgi Kamis Putih : Tabernakel harus kosong. Tiap Kamis Putih, sebelum Misa dan sesudah, tak ada Sakramen Maha Kudus di dalam tabernakel. Jadi sebelum Misa Kamis Putih Tabernakel kosong. Pada Kamis Putih, Tabernakel terbuka dan menampakkan isi yang hampa, tiada Tubuh Kristus di sana. 

Pada bacaan kedua Yesus memulai adanya ekaristi.  Perjamuan yang diadakan untuk mengenang Paskah dan mengenang bangsa Yahudi keluar dari Mesir. 

Pada perjanjian lama, saat Paskah Yahudi, para imam mengorbankan anak domba.  Imam, Altar dan kurban ada tetapi terpisah.

Pada perjanjian baru, Yesus mengorbankan diri sendiri, sebagai tubuh dan darah.  Imam, altar dan kurban ada dalam diri Yesus menjai satu.

Ajaran Yesus paling mulia adalah Cinta Kasih, dan cinta kasih sejati perlu pengorbanan. Korban mendorong kita untuk mencintai bukan untuk membenci, karena kurban adalah sesuatu yang suci, dan kurban terkait diri sendiri bukan orang lain. Menjadi kurban bukan alasan untuk membenci.  

Galeri foto klik disini

Pada misa Kamis Putih ke-2 setelah doa sesudah komuni, imam mengisi pendupaan dan mendupai sakramen Maha Kudus, kemudian mengenakan velum dan mengangkat sibori dan dilanjutkan dengan perarakan.
Share on Google Plus

About Paroki Nandan

0 komentar:

Posting Komentar