Katekis Paroki Nandan Perdalam Hukum Gereja tentang Sakramen Baptis

Nandan – Tim Pelayanan Katekis Paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Nandan kembali mengadakan pembinaan bagi para katekis dan pemandu lingkungan pada Rabu, 5 Agustus 2026, di Limasan. Kegiatan yang diikuti sekitar 20 peserta ini mengangkat tema "Hukum Gereja tentang Sakramen Baptis, Baik Baptis Bayi maupun Baptis Dewasa" dengan menghadirkan Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr., Pastor Paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Nandan, sebagai narasumber.

Acara yang juga dihadiri oleh Ketua Bidang Pewartaan, bapak Agustinus Sigit Suryanto,  diawali dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Bapak Pambuka V. Adi. Selanjutnya, Bapak Sylvester Nggaba, Ketua Tim Pelayanan Katekis Paroki Nandan, bertindak sebagai moderator. Dalam kata pengantarnya, beliau menyampaikan bahwa pembinaan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi para katekis dalam mendampingi umat.

"Pelayanan katekese menuntut kesiapan yang terus diperbarui. Karena itu, pembinaan seperti ini akan terus kami selenggarakan agar para katekis semakin mantap dalam menjalankan tugas pendampingan iman sesuai ajaran Gereja," ujar Bapak Sylvester Nggaba.

Dalam pemaparannya selama kurang lebih satu jam lima belas menit, Romo Luhur menjelaskan berbagai ketentuan Hukum Gereja yang berkaitan dengan Sakramen Baptis, baik Baptis Bayi maupun Baptis Dewasa. Beliau menegaskan bahwa seorang katekis bukan hanya berperan sebagai pengajar, melainkan terutama sebagai pendamping iman yang membantu calon baptis bertumbuh dalam relasi dengan Kristus.

Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr., dalam Misa Imlek 2026 di Nandan

"Menjadi katekis bukan sekadar menyampaikan pengetahuan tentang iman. Yang jauh lebih penting adalah mendampingi perjalanan iman katekumen, menggali motivasi mereka, membantu mereka mengenal Yesus Kristus, serta mengajak mereka hidup sebagai murid Kristus yang aktif dalam Gereja," tegas Romo Luhur.

Beliau menjelaskan bahwa dalam proses pendampingan, para katekis perlu memberikan pemahaman mengenai panggilan setiap orang Katolik untuk meneladan Yesus Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja, sekaligus mendorong para katekumen agar mulai terlibat dalam kehidupan  menggereja di lingkungan dan paroki. Dengan demikian, penerimaan Sakramen Baptis bukan hanya menjadi sebuah peristiwa liturgis, tetapi awal dari kehidupan iman yang terus bertumbuh.

Selain itu, Romo Luhur mengajak para peserta memahami berbagai ketentuan Hukum Gereja mengenai kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan penundaan penerimaan Sakramen Baptis, baik bagi bayi maupun orang dewasa. Pemahaman ini penting agar setiap proses pendampingan berjalan sesuai ketentuan Gereja dan tetap mengedepankan aspek pastoral.

Mengenai berbagai situasi khusus yang mungkin ditemui di lapangan, Romo Luhur mengingatkan pentingnya komunikasi yang erat antara katekis dan Pastor Paroki.

"Jika ditemukan kemungkinan adanya halangan dalam penerimaan Sakramen Baptis, tugas katekis adalah menyampaikan seluruh informasi secara jujur dan lengkap kepada Pastor Paroki. Keputusan mengenai ada atau tidaknya penundaan baptis, untuk pembinaan khusus terlebih dahulu merupakan kewenangan Pastor Paroki sesuai Hukum Gereja," jelas beliau.

Lebih jauh, Romo Luhur menekankan bahwa prinsip utama yang harus selalu menjadi pegangan setiap katekis adalah keselamatan jiwa.

Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi, Pr.. dalam pembelajaran katekis

"Dalam setiap pendampingan, jangan pernah kehilangan orientasi utama, yaitu keselamatan jiwa-jiwa. Itulah yang harus menjadi dasar setiap pelayanan seorang katekis," pesannya kepada seluruh peserta.

Beliau juga mengingatkan bahwa orang tua Katolik memiliki tanggung jawab untuk membaptiskan putra-putrinya sesegera mungkin setelah kelahiran dengan tetap mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu dan bayi. Menurutnya, Sakramen Baptis merupakan rahmat keselamatan yang sedapat mungkin tidak ditunda tanpa alasan yang mendasar.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung sangat dinamis. Para peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan, baik mengenai materi yang telah dipaparkan maupun berbagai kasus pastoral yang pernah mereka temui ketika mendampingi calon baptis. Diskusi yang hangat tersebut semakin memperkaya wawasan peserta dalam menerapkan Hukum Gereja secara tepat sekaligus tetap mengedepankan semangat pastoral.

Menjelang penutupan, Bapak Sylvester Nggaba mengajak umat Paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Nandan yang memiliki panggilan untuk ambil bagian dalam pelayanan katekese.

"Paroki Nandan masih membutuhkan lebih banyak katekis. Kami membuka kesempatan bagi umat yang bersedia dipersiapkan dan dibina menjadi katekis agar pelayanan pendampingan iman kepada para katekumen semakin optimal," ungkapnya.

Kegiatan ditutup dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ibu Este, dilanjutkan dengan berkat penutup dari Romo Aloysius Gonzaga Luhur, Pr. Melalui pembinaan yang dilaksanakan secara berkesinambungan ini, Tim Pelayanan Katekis berharap para katekis Paroki Nandan semakin memahami Hukum Gereja, semakin matang dalam pelayanan pendampingan iman, dan semakin mampu mengantarkan para katekumen untuk menerima Sakramen Baptis dengan kesiapan iman yang baik demi keselamatan jiwa-jiwa dan kemuliaan Allah.
(pva)

Posting Komentar

0 Komentar