Konspirasi batin Minggu, 11 Februari 2018 Sssst...!


Yesus meminta orang itu untuk tidak menceritakan tentang penyembuhannya, tetapi ia tetap bersikeras. Akibatnya, orang-orang memburu Yesus untuk minta kesembuhan, bukan untuk mendengarkan sabdaNya. Akhirnya, pewartaan Injil tidak terjadi karena orang tidak bijaksana dalam menyebarkan suatu kabar. 


Sssst...! Kabar bohong tentu tidak boleh disebarkan. Namun, apakah setiap kabar yang menurutmu benar harus kausebarkan? Bertanyalah dulu, apakah berguna bila disebarkan? Apakah orang lain sungguh membutuhkan kabar itu, ataukah sebetulnya dirimu yang butuh pengakuan dengan menyebarkan kabar tersebut? Apakah efeknya baik, atau malah hanya akan memperkeruh masalah? Manakah yang lebih dibutuhkan orang sakit: dijenguk, atau disebarkan kabarnya kemana-mana? Apakah itu memang "Kabar Gembira"? 



Sssst...! Dibutuhkan kebijaksanaan untuk pantas berbicara di muka umum. Ketika kau share atau posting, sadarkah kau bahwa hal itu seperti berbicara di muka umum? Cukup bijaksanakah kau untuk menyampaikan suatu kabar di muka umum? Bila tidak, mengapa tidak kautahan jarimu untuk menekan tanda "post", "comment", atau "share"? Betapa riuh linimasa kita karena beragam kabar yang mungkin saja benar, namun sebenarnya tidak kita butuhkan; kabar yang sebenarnya hanya menampilkan hasrat eksis penyebarnya... 


Sssst...! Ketika kau diam, tidak posting atau komentar apa pun, seringkali itu adalah Kabar Gembira...
Share on Google Plus

About Paroki Nandan

0 komentar:

Posting Komentar