Allah Mengutus Anak-Nya de Dalam Dunia Untuk Menyelamatkannya

Hari ini kita sudah memasuki Minggu Prapaskah  IV. Tinggal sedikit lagi kita sudah akan memasuki Pekan Suci yang diawali dengan perayaan Minggu Palma. Sudah siapkah aku untuk merayakannya? Tentu bukan hanya goal perayaan tsb. tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana kita secara rohani telah berproses dalam dinamika 40 hari retret agung ini. Dinamika apakah itu? Tiada lain adalah pertobatan yang kita laksanakan dengan matiraga: pantang, puasa, doa, derma dan amal kasih kepada sesama yang menderita. Itu kita laksanakari agar masa Prapaskah menjadi saat istimewa untuk meninggalkan kegelapan (egostis, kemunafikan, ketidakpedulian, dsb) menuju terang kehidupan. Dengan beriman kepada Yesus Kristus, umat Kristiani sudah memperoleh anugerah keselamatan yang baru akan mencapai kesempurnaannya di saat kehidupan kekal nanti. Sementara itu, peninggian Yesus di kayu salib yang diwartakan dalam Injil hari ini adalah momen keselamatan, ketika Bapa atas kehendak-Nya sendiri berkenan mengutus Anak-Nya yang tunggal demi keselamatan umat manusia. Yesus datang bukan untuk menghakimi tetapi untuk menyelamatkan. Oleh karena itu, puasa dan pantang hendaknya dihayati sebagai masa untuk meinperdalam iman akan Allah dalam Yesus Kristus yang telah mengasihi umat manusia sampal wafat di salib.

Masa puasa dan pantang hendaknya diwarnai dengan sikap rendah hati, seperti dinasihatkan dengan oleh Paulus dalam bacaan kedua. Dasarnya, keselamatan umat manusia bukan hasil usahanya, melainkan suatu pemberian Allah. Apa yang dapat dilakukan oieh manusia adalah menanggapi pemberian itu dengan iman dan perbuatan yang nyata. Pengalaman bangsa Israel di dalam masa pembuangan (bacaan pertama) menjadi pemhelajaran yang berharga bagi umat Kristiani di masa kini. Jika refleksi Perjanjian Lama menggamharkan Allah yang meninggalkan umat-Nya ketika mereka berkubang dalam dosa, tidak demikian dalam Perjanjian Baru. Allah dalam Yesus Kristus tetap setia ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Dia mencari para pendosa untuk diselamatkan. Alasannya jelas bahwa Yesus datang ke dunia bukan untuk menghakimi para pendosa tetapi untuk menyelamatkan kita semua yang pada dasarnya adalah para pendosa. Kita sungguh adalah manusia-manusia yang rapuh tetapi kerap berlaku tidak setia dan angkuh. Sadarkah aku? Cahaya kasih setia Allah ini menjadi modal utama bagi umat kristiani untuk menekuni laku tobat selama masa Prapaskah bahkan sampai akhir hayat. Terang telah datang, mari kita hidup dalam terang dan meninggakan segala kegelapan. Mari bertobat agar kita selamat dan terus menjadi berkat.***d2t
Share on Google Plus

About Paroki Nandan

0 komentar:

Posting Komentar