Misdinar Nandan Live In di Paroki St Petrus & Paulus, Majaksingi, Borobudur


Warta Paroki. Live in adalah sebuah kegiatan pengembangan kepedulian pribadi terhadap diri sendiri dan orang lain. Putra putri Altar akan diminta tinggal bersama dengan masyarakat desa untuk bebrapa hari beberapa malam, untuk belajar dan mengalami dan menghayati kehidupan dalam kondisi yang berbeda dengan lingkungannya sehari-hari secara langsung.

Tujuan utama kegiatan live in adalah untuk mengembangkan semangat kepekaan sosial dan menumbuhkan semangat melayani.

Live In Misdinar Paroki Nandan mengambil tempat di  Paroki St Petrus & Paulus Kerug Munggang, Majaksingi, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, selama 3 hari 2 malam (26-28 Juni 2018).

Berikut refleksi dari live in tersebut.
Selasa, 26 Juni 2018, Live in hari pertama
Pukul 14.00 kami berkumpul di depan pasturan gereja. Perasaan kami saat itu kebanyakan malas karena cuaca cukup panas. Namun, kami tetap semangat untuk berangkat live in karena ini merupakan pengalaman pertama kami di misdinarr untuk melaksanakan kegiatan live in.
Setelah menunggu selama satu jam sambil melakukan registrasi peserta dan pembagian penumpang mobil, kami bersiap-siap untuk berangkat. Maka, kami berkumpul di depan gereja untuk berdoa bersama. Doa dipimpin oleh Romo Dodit. Selanjutnya kami foto bersama dan memasuki kendaraan yang sudah disiapkan.

Selama di perjalanan semuanya berjalan dengan lancar. Hanya ada sedikit masalah, karena 2 mobil tersesat sehingga terjadi keterlambatan. Yang semula di susunan acara seharusnya tiba pukul 16.30, kami tiba di Kerug pukul 17.00.

Setelah tiba di Kerug, segala perasaan malas dan ogah-ogahan kami terbayar dengan pemandangan yang sangat indah. Dari atas pegunungan, kami dapat melihat Kota Jogja dan Magelang. Udara sangat dingin, membuat kami penasaran bagaimana keadaan di malam hari.

Kegiatan pertama kami yaitu penyambutan. Pertama Bapak Edi menyampaikan kata sambutan untuk menyerahkan acara live in pada tim pendamping kami dari kongregasi OMI (Oblat Maria Immaculata). Tim pendamping kami dari OMI adalah Romo Wahyu, Frater Bintang, dan 2 remaja yang bernama Febri dan Josafat yang sedang mengikuti live in di biara OMI pun ikut mengikuti live in misdinar untuk mendampingi kami. Selain itu, ada juga Hoscea, salah satu seminaris dari paroki Nandan, yang sudah setahun masuk di kongregasi OMI.

Selanjutnya, ada sambutan dari wakil umat Kerug Desa, yaitu Bapak Aloysius Purwo Sukirto yang juga sebagai tuan rumah live in. Acara sambutan berlangsung sampai jam 17.30. Setelah sambutan, kami melakukan check in. Yang laki-laki di dalam TK, yang p kami melakukan check in. Yang laki-laki di dalam TK, yang perempuan di rumah Bapak Purwo. Lalu, beberapa menit kemudian makan malam sudah siap. Kami makan malam dengan lauk yang sederhana namun dengan kebersamaan yang ada, makanan tersebut menjadi sangat lezat.

Kelompok pertama cuci piring sudah bersiap-siap untuk mengumpulkan piring kotor dan membawanya ke tempat cucian piring. Kelompok cuci piring yang pertama ini berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Walaupun tidak semua piring dapat tercuci, karena waktu sudah habis dan kami harus segera bersiap untuk sembahyangan.

Pukul 18.45 kami mulai berjalan ke tempat sembahyangan. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan gelap. Hanya ada sedikit penerangan dan suasana sangat sunyi. Kami merasa kagum dengan umat yang ada disini karena semangat mereka dalam kegiatan kerohanian sangat besar. Tidak peduli usia, tidak peduli keadaan alam, mereka semua semangat mengikuti kegiatan. Hal itu sangat memotivasi kami untuk semakin giat dalam kegiatan menggereja kami. Kami diajarkan untuk tidak mudah mengeluh karena masih banyak umat katolik yang aksesnya tidak mudah seperti di paroki kami.
Puji Tuhan kami dapat mengikuti sembahyangan dengan baik, walaupun menggunakan Bahasa Jawa dan kami tidak terlalu paham. Namun, umat dengan senang hati dan ramah menyambut kedatangan kami. Kami merasa sangat diterima dengan baik di desa ini, membuat kami nyaman berada di desa ini.

Sembahyangan selesai pukul 20.45, kami pun berpamitan dan kembali ke kapel. Sampai di kapel, kami istirahat sebentar sambil memandang pemandangan dari halaman kapel. Setelah itu kami masuk ke kapel dan melakukan refleksi.

Refleksi yang kami dapatkan selama kegiatan hari ini adalah :

  1. Setelah live in, harusnya kita menjadi lebih baik.
  2. Sebagai misdinar kita memberi kesaksian yang baik kepada teman-teman yang belum menjadi misdinar, agar ikut menjadi misdinar.
  3. Kita meneladan Kristus; sebagai imam: menguduskan, sebagai nabi: menyalurkan lidah Allah, dan sebagai raja: memimpin dan melayani.

Akhirnya, kegiatan hari pertama kami selesai. Kami berdoa lalu kembali ke tempat penginapan masing-masing dan tidur. Sampai jumpa di kegiatan hari kedua!

Rabu, 27 Juni 2018, Live In Hari Kedua
Hari kedua Live In kami, pada pukul 05.00 kami bangun dengan keadaan masih mengantuk. Pukul 06.30 dilanjutkan dengan jalan jalan menuju Gua Maria Watu Tumpeng, dengan kondisi jalanan yang menanjak tetapi udara pagi itu sangat sejuk dan dingin. Jarak anatara Kapel dan Gua Maria tidak terlalu jauh, banyak warga yang menyambut kami dengan ramah di perjalanan menuju Gua.

Setelah tiba di Gua Maria Watu Tumpeng kami duduk di depan patung Bunda Maria, selanjutnya kami berdoa sebentar yang dipimpin oleh Romo Wahyu. Tak lupa sebelum kami kembali ke kapel, kami berfoto untuk kenang kenangan. Setelah dari Gua Maria Watu Tumpeng kami kembali ke kapel dan rumah Budhe untuk lamgsung mandi dan sarapan pagi pada pukul 08.30. Dilanjutkan dengan sesi I yang dipandu Romo Wahyu, sesi I yang berjudul ‘’ What is the question?’’ yang dapat kami ambil dari sesi I ini adalah :

  1. Bercermin melalui orang lain sehingga kita dapat menemukan identitas kita yang sejati.
  2. Hadir dan menjadi berkat bagi orang lain yang artinya kehadiran kita dirasakan membawa kebaikan bagi orang lain, pemberian diri yang tulus (oblatio) kita yang tulus menjadii berkat bagi orang lain.
  3. Hidup sebagai berkat berarti kita berani keluar dari egoism pribadi untuk memberikan seluruh hidup kita kepada orang lain, khususnya orang – orang terdekat, dan kepada Tuhan.

Setelah itu dilanjutkan dengan bersih-bersih kapel, tidak semua ikut membersihkan kapel, ada yang hanya duduk saja dan jalan-jalan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 waktunya kami makan siang, makanan di sini sederhana namun begitu enak. Kemudian kami kembali lagi ke kapel dengan melalui jalan menanjak. Kami kembali ke kapel untuk melanjutkan sesi II dengan judul ‘’ ?’’ adapun point-point dari sesi II yaitu :

  1. Cara hidup yang kita ambil akan turut mewarnai kehidupan orang lain.
  2. Apapun bentuk pelayanan kita, itulah cara kita mengugkapkan  diri bahwa kita ingin menjadi bagian dari mereka.

Waktu menunjukkan pukul 15.00 dan waktunya kami gotong royong untuk membantu membawa batu dari kapel sampai rumah Mbah Marto , yang digunakan untuk  membangun rumah . Memang sangat melelahkan tapi kebersamaanlah yang kita ambil dari kegiatan desa ini, kami senang membantu, meringankan beban Mbah Marto untuk membawa batu yang cukup banyak.

Kamipun langsung mandi pada pukul 17.00. Setelah mandi kami makan di rumah Budhe pukul 18.00, piring kotor kami dicuci dengan bergilir sesuai kelompok dari jatah makan hari pertama, jadi kami semua dapat giliran mencuci piring. Kami kembali lagi ke kapel untuk sharing dan sesi III pada pukul 19.00 – 21.00. Sesi III ‘’Apa Anda Membawa Arti?’’ ’’ adapun point-point dari sesi II yaitu :

  1. Cara hidup yang kita ambil akan turut mewarnai kehiduan orang lain.
  2. Apapun bentuk pelayanan kita, itulah cara kita mengungkapkan diri bahwa kita ingin menjadi bagian dari mereka.

Pukul 21.00 – 21.30 dilanjutkan dengan refleksi oleh Romo Wahyu dan setelah itu kami tidur.

Kamis, 28 Juni 2018, Live In Hari Ketiga
Hari ini adalah Live in terakhir kami di sini. Kegiatan kami diawali dengan mandi pukul 07.30 . Dilanjutkan dengan sarapan pagi di rumah Budhe, lalu kami menuju kapel untuk review acara sebentar. Pukul 09.00-09.30 persiapan misa dan packing persiapan pulang.  Kemudian pukul 09.30-10.30 misa bersama umat di sana. Kami juga menyerahkan kenang-kenangan yang diserahkan oleh ketua misdinar Sukma, yang  di terima oleh ketua lingkungan. Setelah misa kami makan siang dan pada pukul 11.30 Perjalanan ke Nandan, kami tiba di gereja pukul 13.00.




Galeri foto klik disini
Share on Google Plus

About Paroki Nandan

0 komentar:

Posting Komentar