Relung-relung Renung - Meneng, Wening, Dunung

R3. Di zaman sekarang, keheningan justru dianggap sebagai sesuatu yang tidak diminati karena dengan diam dan hening, orang menjadi tersiksa. Mengapa? Karena kita terbiasa hidup dalam arus hingar-bingar kehidupan apalagi dengan kehadiran perangkat komunikasi atau gawai (gadget). Bisa jadi, orang tidak pernah lepas untuk menggunakan gawai itu dari pagi sampai pagi lagi. Ibaratnya, lepas sedetik saja dari gawai di tangannya, sudah pusing kepala rasanya. Padahal dengan berani masuk dalam keheningan, orang bisa mengendapkan segala pengalaman hidup, merefleksikannya dan melangkah maju dengan penuh semangat.

Maka bukan hal tabu bagi Yesus untuk mengajak para murid-Nya melepaskan lelah dengan pergi ke tempat sunyi dan hening diri agar disegarkan kembali.

Dengan berani masuk dalam keheningan, hati-budi juga semakin peka akan situasi sekitar. Itulah yang kemudian membuat Yesus menjadi peka budi-peka hati dan memiliki hati yang peduli kepada orang-orang yang telantar bagaikan domba tak bergembala. Orang Jawa juga mempunyai 3 langkah untuk masuk dalam relung-relung batin terdalam agar orang semakin bersatu dan mengalami komunikasi akrab dengan Yang Ilahi yaitu neng, ning, nung (meneng, wening, dunung).

Sudahkah aku mempunyai kebiasaan ambil waktu khusus untuk hening dan mengolah hati-budiku?***d2t

Share on Google Plus

About Paroki Nandan

0 komentar:

Posting Komentar