Panduan Adven Lingkungan 2018


PENGANTAR

"Bersaudara mewujudkan ke-Bhineka Tunggal Ika-an dalam masyarakat Multikultural untuk Demokrasi yang Bermartabat" Pernyataan itu menjadi pilihan dan fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2019. Fokus itu tidak lepas dari Rencana Induk 2016-2035 dan Arah Dasar KAS 2016-2020 serta konteks masyarakat. 

Sebagaimana disebutkan dalam RIKAS, Umat Allah Keuskupan Agung Semarang diajak untuk mewujudkan peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman. Usaha itu diwujudkan dengan meningkatkan mutu kehidupan bersama, meningkatkan partisipasi umat dalam memperjuangkan kebijakan publik, menyelenggarakanformatioiman, menyelenggarakan pendidikan yang berwawasan kebangsaan yang mengembangkan pluralitas merujuk pada nilai-nilai Pancasila. Dengan rumusan tersebut, Umat Allah Keuskupan Agung Semarang mau menempatkan diri bahwa dirinya bukan hanya menjadi anggota masyarakat tetapi juga menjadi bagian dari para pejuang yang membangun masyarakat Indonesia demi terwujudnya nilai-nilai Pancasila baik nilai keberimanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah maupun keadilan. 

Keterlibatan aktif dalam membangun masyarakat itu juga merupakan panggilan dan perutusan Tuhan sendiri. Sejak kita menerima sakramen inisiasi dan dikuatkan dengan sakramen lainnya, kita mengambil bagian dalam hidup dan perutusan Kristus menghadirkan Kerajaan Allah, menjadi terang, garam dan ragi Kristus bagi masyarakat. Dengan demikian, penghayatan iman mesti mendapat wujudnya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. 

Untuk mendukung penghayatan iman dan keterlibatan hidup dalam masyarakat, Komisi Kateketik mengangkat tema Adven tahun 2018: Menghidupi Iman dalam Masyarakat Pancasila. "Menghidupi iman" berarti menyadari kehadiran dan campus tangan Kristus dalam hidupnya serta menegaskan sikap untuk mengikuti-Nya dengan setia dalam karya penyelamatan-Nya. Kristus menghendaki agar kita tidak hanya menjadi orang suci dan saleh, tetapi juga menjadi orang yang terlibat aktif menebar berkat bagi sesama dan bagi tatanan hidup bersama. "Dalam Masyarakat Pancasila" menunjuk konteks perwujudan iman. Menghidupi iman dalam masyarakat Pancasila berarti mewujudkan nilai-nilai Pancasila, wujud nyata nilai-nilai Injili dalam masyarakat Indonesia. 

Maka mari kita jadikan masa Adven ini menjadi masa untuk merenungkan kehadiran Kristus yang memanggil dan menghendaki kita untuk mengusahakan kebaikan bersama dan sekaligus memperjuangkan terwujudnya tatanan hidup bersama yang adil, demokratis dan terarah pada kesejahteraan umum. Secara khusus pada tahun politik ini, mari kita berikan suara kita untuk orang-orang yang kita percaya akan membawa kebaikan dan kemajuan bangsa dan negara. Kita doakan pula umat kita yang terlibat aktif dalam politik, semoga mereka dengan tekun dan setia berjuang untuk kesejahteraan umum. 

Ketua Komisi Kateketik
Rm. FX. Sugiyana Pr


Sarasehan Pertama
MEMAKNAI PANGGILAN KRISTUS DI TENGAH MASYARAKAT

Tujuan
Umat semakin mensyukuri dan menghidupi rahmat sakramen inisiasi dalam panggilanriya sebagai warga Gereja dan masyarakat. 

Pra Wacana Pertemuan 
Gagasan Gereja sebagai Umat Allah yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II memberikan peluang keterlibatan bagi kaum awam dalam gereja tidak lagi berdasarkan jabatan tetapi sebagai konsekwensi dan sekaligus rahmat dari inisiasi yang telah diterimanya: "...melalui Baptis mereka disaturagakan dalam tubuh mistik Kristus, melalui Penguatan mereka diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus, dan dengan demikian oleh Tuhan sendiri ditetapkan untuk merasul." (AA. 3). Buah dari Inisiasi yang kita sandang hendaknya juga terwujud di tengah masyarakat. Lingkungan yang dicetuskan oleh Mgr. Albertus Soegijapranata sejak tahun 1934 menjadi cara menggereja umat Katolik. Umat lingkungan perwujudan konkret Gereja yang dijiwai semangat persaudaraan injil dan secara penuh melibatkan diri dalam masyarakat, membaur dalam masyarakat sekitar, dalam konteks sosio-budaya, ekonomi dan politiknya. Dalam posisi inilah secara langsung umat lingkungan memberi kesaksian tentang Injil Yesus Kristus. Identitas kekatolik kita yang diwujudkan dalam keterlibatan di tengah masyarakat inilah yang akan direfleksikan dalam pertemuan Adven kali ini. Mari kita perdalam hal-hal yang bernilai, baik itu yang bersifat obyektif (data dan fakta: inventarisasi), reflektif dan evaluatif untuk melihat gerak hidup beriman bersama di tengah masyarakat. 

Langkah Proses Pertemuan 
A. Pembuka 
1. Nyanyian Pembuka 
Pemandu dapat mengajak peserta menibuka dengan lagu-lagu, yang memberikan semangat kebangsaan, baik locgu nasional maupun lagu rohani yang sesuai 

2. Doa Pembuka 
Doa, ini hanya salah satu alterantif, pemandu dapat menyesuaikan.nya dengan situasi umat. 

Bapa yang Maharahim, Allah segala penghiburan, dalam Tahun Politik Bangsa kami ini, dan Tahun paruh waktu Rikas Keuskupan Agung Semarang, Engkau memberikan kepada kami, anugerah hidup menggereja yang begitu dinamis. Segala gerak yang telah kami jalin dan bangun, sungguh memberikan semangat untuk semakin menyadari kasih Mu yang besar dan memberikan harapan baru bagi bangsa ini. Ajarilah kami, untuk semakin mampu menyadari dan menemukan nilai, karya, dan semangat yang telah kami kembangkan dalam paguyuban, terutama dalam keterlibatan berbangsa dan bermasyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin. 

3. Penyalaan lilin Korona 
Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang pertama dengan doa. 

P Allah Bapa yang Maha Kasih, kami telah memasuki masa Adven, masa dimana kami menantikan akan kedatangan Putera-Mu terkasih. Kami mohon, semoga lilM adven ini menerangi hati dan menuntun kami untuk menghadirkan Peradaban Kasih bagi sesama, lingkungan dan bangsa kami ini. Semoga dengan bimbingan sabda-Mu kami dapat menggiatkan lingkungan sebagai pusat hidup beriman yang semakin terbuka, mampu berdialog dan membawa perubahan baru dalam masyarakat. Semoga kami dapat menjadikan semua orang untuk semakin sejahtera, bermartabat dan beriman sesuai dengan nilai Pancasila. Akhirnya, kami semakin pantas untuk menyambut Putera-Mu yang lahir di tengah-tengah kami. Permohonan ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, sepanjang segala masa. 

U Amin 

4. Pengantar Pertemuan 
Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut: 

Bapak dan Ibu yang terkasih, Tahun Politik di Negara kita telah dimulai dan akan memuncak dalam Pemilihan Presiden bulan April 2019 yang akan datang. Bagimana kita sebagai warga Gereja, ambil bagian dalam pesta demokrasi ini? Dalam pertemuan Adven ini, kita akan melihat kembali panggilan hidup beriman di tengah dinamika kehidupan berbangsa, memasuki tahun politik. Sejauh mana kita sebagai orang Katolik dengan rahmat sakramen inisiasi yang sudah kita peroleh menjadi berkat bagi orang lain dalam hidup bermasyarakat. Kita diajak mewujudnyatakan rahmat sakramen inisiasi dengan menjadi semakin peka dan terlibat memajukan masyarakat dan bangsa kita. 

B. Inspirasi 
1. Mengapresiasi Dinamika Keterlibatan Panggilan Hidup Beriman 
Pemandu dapat mengawali refleksi keterlibatan panggilan hidup beriman dengan kutipan sebagai berikut: 

Dalam sepenggal kutipan Dokumen Konsili Vatikan II Dekrit tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem) artikel 3 dituliskan:

"Kaum awam menerima tugas serta haknya untuk merasul berdasarkan persatuan mereka dengan Kristus Kepala. Sebab melalui Baptis mereka disaturagakan dalam tubuh mistik Kristus, melalui Penguatan mereka diteguhkan oleh kekuatan Roh Kudus, dan demikian oleh Tuhan sendiri ditetapkan untuk merasul. Mereka ditakdiskan menjadi imamat raj awi dan bangsa yang kudus (lih. lPtr 2:4-10), untuk melalui segala kegiatan mereka mempersembahkan korban rohani, dan dimana pun juga memberi kesaksian akan Kristus. Melalui sakramen-sakramen, terutama Ekaristi suci, disalurkan dan dipupuklah cinta kasih, yakni bagaikan jiwa seluruh kerasulan. Kerasulan dijalankan dalam iman, harapan dan cinta kasih, yang dicurahkan oleh Roh Kudus dalam hati semua anggota Gereja  

2. Pendalaman Bersama 
Refleksi kerterlibatan di tengah masya•akat dengan pertanyaan sebagai berikut: 
a. Apa saja usaha-usaha, gerakan, atau kegiatan yang sudah dilakukan "melalui berkat sakramen inisiasi semua orang Katolik ditetapkan untuk merasul"? Bagikanlah pengala man Anda ! 
b. Seberapa jauh keterlibatan Anda tersebut? Apa saja bentuk peran serta Anda? 

Setelah berbagi pengalaman, Pemandu dapat mengajak umat yang nadir mengevaluasi diri dengan lembar yang dibagikan. Berilah waktu sekitar 5 -10 menit untuk mengevaluasi diri, sejauh mana, keterlibatan dalain hidup bermasyarakat.



C. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan 
Pemandu dapat mengajak uniat memperkaya dan meneguhkan refleksi pengalaman hidupnya dengan melihat kembali kekayaan Dokumen Gereja dan segi Alkitabiah mengenai panggilan Kristen di tengah masyarakat

1. Kutipan Kitab Suci 
Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Luk 4: 16-21 

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." 

2. Renungan dan Simpul 
Pendamping dapat menyampaikan point, point reflektif untuk memperkaya/ melengkapi sarasehan. 

  • Yesus yang dipenuhi Roh Kudus mengungkapkan panggilan dan perutusan dari Bapa-Nya. "Roh Tuhan ada padak-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan yang tertindas dan untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Tugas perutusan itu dijalankan oleh Yesus sepanjang hidup-Nya terutama selama tiga tahun masa karya-Nya. "Orang buta dijadikan-Nya melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Mat 11:5). Sekalipun, kadang ditolak, diusir, dicurigai, diancam untuk dibunuh, Yesus terus melakukan tugas perutusan Bapa-Nya. la tidak takut dengan segala hambatan dan tantangan. Bagi-Nya, ketaatan pada Bapa dan keselamatan umat manusia adalah prioritas dalam hidup-Nya. Demi dua hal itu, is rela sengsara dan wafat di kayu salib. Kebangkitan pada hari ketiga, membuktikan bahwa apa yang dilakukan-Nya berkenan bagi Allah. 
  • Setiap dari kita telah menerima Roh Kudus, sama dengan yang diterima oleh Yesus. Roh itu kita terima saat menerima Sakramen Baptis dan diteguhkan kembali saat menerima Sakramen Penguatan. Sebagaimana Roh Kudus telah menguatkan Yesus dalam perutusan, Roh yang sama itu pula juga menguatkan kita dalam tugas perutusan kita untuk mewartakan kabar gembira dan mewujudkan keselamatan Allah dalam sejarah kehidupan. Bagaimanapun juga keselamatan umat manusia, menjadi tanggung jawab semua murid Kristus. Kecemasan dan keprihatinan orang-orang juga menjadi kecemasan dan keprihatinan kita. Karena itu Yesus mendorong kita turut menjaga kehidupan setiap pribadi terutama yang membutuhkan dan juga mengusahakan terciptanya tatanan hidup yang adil, sejahtera dan demokratis. 
  • Lingkungan dimana kita hidup bisa menjadi medan perutusan kita baik itu di rumah, di lingkungan tetangga, Gereja dan tempat karya kita. Seandainya ada tantangan dan kesulitan, kita belajar pada Yesus yang tetap terus berbuat baik dan apa yang berarti untuk banyak orang. Allah tidak akan meninggalkan para utusan-Nya bekerja dan menanggung beban sendiri. Karena itu marilah kita memaknai sakramen inisiasi yang telah kita terima, bukan hanya untuk kesucian diri tetapi juga kesucian dunia, bukan untuk kesempurnaan diri tetapi juga untuk menyempurnakan tata hidup bersama. Dengan demikian kesucian diri mesti berdampak bagi lingkungan sekitarnya. 
  • Begitu juga dinyatakan dalam Dokumen Gereja Christifideles Laici (CL) tentang Nasihat Apostolik Panggilan dan Perutusan Kaum Awam di Tengah Dunia, dikatakan bahwa panggilan kita sebagai umat awam di lingkungan-lingkungan merupakan panggilan yang khas (ex vocatione propria). Kita sebagai awam bertugas mencari dan membawa Kerajaan Allah dengan mengusahakan hal-hal yang fana dan terlibat di dalamnya untuk mengaturnya seturut kehendak Allah. Kita sebagai kaum awam dipanggil hidup dalam dunia, artinya menjalankan segala macam tugas dan pekerjaan duniawi,dan berada di tengah kenyataan biasa hidup berkeluarga dan sosial. Rita diajak dan dipanggil berkomitmen hadir dalam kancah dunia masyarakat untuk melayani martabat manusia. 
  • Akhirnya, di masa Adven ini, kita diajak untuk menyadari bahwa kaum awam harus membawa terang Kristus ke dalam dunia sekular, sehingga nilai-nilai kehidupan di dunia ini dapat diarahkan kepada Kristus. Kita mulai panggilan dan misi ini dari keluarga kita sebagai inti sel masyarakat yang terkecil (CL 40), dan tujuan dari misi ini adalah untuk melayani kehidupan masyarakat, demi kebaikan bersama (lih. CL 42). 


D. Penegasan Bersama dan Penutup 
Pemandu rnengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh, pribadi atau lingkungan! 

1. Pengendapan 
Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit. 

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi: 
Identitas kekatolikan macam apa yang akan kita tampakkan dalam hidup di tengah masyarakat? 

Ajakan untuk berdoa: 
Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita untuk hidup sesuai panggilan iman kita, yaitu menjadi orang Katolik yang senantiasa hadir di masyarakat. Berdoalah agar ramhat Sakramen Inisiasi terwujud dalam kehidupan kita. Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa "Bapa Kami". 

2. Doa Penutup 
Bapa yang Maha Kasih, kami bersyukur karena hari ini Engkau telah menyadarkan kami kembali untuk dapat menjadi orang katolik yang berani bersaksi di tengah masyarakat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah membarui hidup kami dengan Roh Kudus-Mu sendiri melalui sakramen inisiasi yang telah kami terima. Semoga untuk hari-hari mendatang kami semakin berani membangun dan mewujudkan peradaban kasih di tengah masyarakat. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah Tritunggal, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin. 

3. Nyanyian Penutup 
Pemandu dapat menutup pertemuan dengan lagu yang sesuai.


Sarasehan Kedua
MENJADI TERANG, GARAM DAN RAGI KRISTUS DI TENGAH MASYARAKAT
Tujuan

Umat semakin menyadari jati diri dan nilai hakiki sebagai orang Katolik yang sejati dengan dengan menjadi terang, garam dan ragi Kristus dalam hidup sehari-hari di tengah masyarakat. 

Pra Wacana Pertemuan 
Konsili Vatikan II menyerukan bahwa "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga" (GS. 1). Seruan ini diwujudkan dengan "menjadi 100 % Katolik dan 100 % Indonesia" sebagaimana yang seruakan Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ. Semboyan ini menjadi semangat hidup umat Katolik di Indonesia. Terbuka begitu luas medan kerasulan bagi kita dalam hidup kemasyarakatan, mulai dari tingkatan RT-RW hingga menyangkut perkara-perkara yang lebih luas.

Tersedia aneka bidang kehidupan bagi kerasulan kaum awam, ekonomi, politik, kebudayaan, pendidikan, kesehatan dan masih banyak lainnya dan ini harus ditangkap sebagai berkat Tuhan. Sebab dengan demikian pengembangan jatidiri murid-murid Kristus sebagai terang, garam dan ragi bagi masyarakat mendapatkan pintu masuk yang sedemikian terbuka luas. Untuk itu semua orang Katolik ditantang untuk semakin mengembangkan semangat kenabian, "wani nggetih" atau militan dalam hidupnya. Semangat kenabian "sebagai terang, garam dan ragi" tidak selalu berarti tindakan-tindakan yang hebat dalam cakupan yang luas namun justru kita laksanakan dalam tindakan-tindakan yang kelihatannya sederhana, dalam lingkup yang kecil, dengan biaya yang murah juga. 

Langkah Proses Pertemuan 
A. Pembuka 
1. Nyanyian Pembuka 
Pemandu dapat mengajak peserta tnembuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat kebangsaan, bail? lagu nasional maupun lagu rohani yang sesuai. 

2. Doa Pembuka 
Doa ini, hanya salah satu alterantif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat. 
Bapa yang Maha Kasih, kami teringat apa yang pernah dikatakan St. Agustinus, bahwa "Terang, meskipun menembus asap kelabu, tidaklah ikut kelabu." Semoga Terang Kristus yang telah kami bawa ini, memampukan kami untuk bercahaya menembus kegelapan, dan tidak terpengaruh oleh segala asap kelabu di sekitar kami. Semoga kami dapat semakin bercahaya, dan mampu menjadi ragi dan garam bagi keadaan di sekitar kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin. 

3. Penyalaan lilin Korona 
Setelah doa pernbuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang kedua dengan doa. 

P Allah Bapa yang Maha Kasih, kami telah memasuki masa Adven, masa dimana kami menantikan akan kedatangan Putera-Mu terkasih. Kami mohon, semoga Jilin adven ini menerangi hati dan inenuntun kami untuk menghadirkan Peradaban Kasih bagi sesama, lingkungan clan bangsa kami Semoga dengan bimbingan sabda-Mu kami dapat menggiatkan lingkungan sebagai pusat hidup beriman yang semakin terbuka, mampu berdialog dan membawa perubahan baru dalam masyarakat. Semoga kami dapat menjadikan semua orang untuk semakin sejahtera, bermartabat dan beriman sesuai dengan nilai Pancasila. Akhirnya, kami semakin pantas untuk menyambut Putera-Mu yang lahir di tengah-tengah kami. Permohonan ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, sepanjang segala masa. 

U Amin

4. Pengantar Pertemuan 
Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut: 
Bapak dan Ibu yang terkasih, di pertemuan Adven kedua ini, kita diajak untuk merefleksikan bahwa kita adalah Warga Gereja setelah Konsili Vatikan II, dimana kita senantiasa lebih melihat diri Gereja kita sebagai sakramen keselamatan bagi dunia. "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga" (GS. 1). Dunia menjadi tempat atau ladang, dimana Gereja berbakti dan hidup. Artinya dunia tidak dijauhi, melainkan menjadi tempat bagaimana karya keselamatan dihadirkan. Pada pertemuan Adven kedua ini kita diajak semakin menjadi terang, garam dan ragi bagi banyak orang di sekitar kita. 

B. Inspirasi 
1. Bacaan Inspiratif 
Pemandu mengajak umat untuk membaca sebuah bacaan inspiratif sebagai berikut: 

"Yuk Menjadi Terang, Garam dan Ragi di Medsos" 

"Pergunakan waktu sebaik-baiknya dalam memanfaatkan media sosial untuk bergandengan-tangan menjalin kerjasama membangun bangsa, bukan sebagai sarana untuk bertikai, saling menjelek-jelekkan, dan menyebar fitnah." 

Itulah sepenggal rekomendasi dari Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) di Palangkaraya yang dilakukan oleh Komisi Komsos KWI dari tanggal 7 hingga 13 Mei 2018 dengan tema "Kebenaran akan Memerdekakan: Gereja Katolik Menolak Hoax, Fake News, Hate Speech." 

Pertemuan itu, mengajak semua orang Katolik tentang pentingnya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, kegembiraan, suka cita, dan pesan cinta kasih sebagai konten terbaik yang layak disebarkan melalui media sosial demi membentuk karakter bangsa Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, cerdas, dan berakhlak mulia. Orang Katolik harus menjadi cahaya benderang di setiap media sosial untuk juga "menggali sebanyak mungkin data sahih, valid, dan terpercaya untuk men-check dan re-check berbagai bentuk pesan dan berita yang didapatkan melalui internet., agar tidak terjerumus dalam persepsi dan asumsi yang sesat dan keliru." 

Di dunia jejaring sosial itu, orang Katolik harus menjunjung prinsip keadilan, kemanusiaan dan kesaksian nyata, "sehingga pengabar sukacita tidak cukup sekedar menulis pesan dalam media sosial tanpa menjalani nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikannya."

Begitu juga, orang Katolik perlu menjadi penawar, garam dan ragi yang senantiasa memberikan faedah bagi dunia internet yang penuh tipuan dan kabar-kabar yang menyesatkan. Maka, diharapkan orang Katolik sebelum mengirim pesan atau berita yang hendak disampaikan ke publik via media sosial, "harus direnungkan dan dipertimbangkan dahulu secara sungguh-sungguh, karena konten negatif dapat memberikan dampak dahsyat yang merugikan umat manusia." Pegangan etika dalam berinteraksi di media sosial yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap pengguna internet. 

Begitu banyaknya bertaburan hoax, fake news, dan hate speech di internet, membuat rusaknya sendi-sendi kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan bernegara dewasa ini, mengharuskan setiap orang Katolik aktif untuk menjadi terang bercahaya bagi setiap orang. 

Maka, baiknya orang Katolik senatiasa "menghapus" dan "`tidak mengirim" pesan dan berita yang berpotensi memberikan dampak negatif di masyarakat, serta mengajari teman, sahabat, keluarga, komunitas, dan masyarakat di sekitar "agar mampu memilah dan memilih pesan maupun berita yang ada di dunia maya, melalui berbagai pendekatan edukatif dan sosialisasi yang berbasis suara hati." 

Dalam dunia modern dewasa ini, bahwa sering mucul tabiat buruk anti-sosial yang dapat menimpa setiap orang yang tidak bijak dalam memanfaatkan teknologi. Untuk menghindari hal itu, kitas ebagai orang Katolik diminta menjaga keseimbangan dan porsi yang tepat dalam bermedia sosial." Dan karena yang tertulis di internet akan sangat sulit dihapus dan dihilangkan, "pastikan penyampaian konten yang benar, positif, jelas, dan terang menjadi prinsip yang dipegang dalam berkomunikasi di media sosial." 

Akses terhadap medsos secara baik, benar, berkualitas, dan bijaksana, "akan memberi kecerahan dalam kehidupan individu, komunitas, dan masyarakat di sekitarnya, sebaliknya, pemanfaatan keliru justru akan merugikan pengguna untuk jangka pendek, menengah,dan panjang." Orang Katolik harus menjadi "Terang, Garam dan Ragi di media sosial" dewasa ini. 

Digubah dari laman https: / /penakatolik.com/ 2018/ 05/ 13/ umat-katolik-diminta-manfaatkan-medsos-guna-membangun-bangsa-bukan-untuk-bertikai/ 

2. Pendalaman Bersama 
Dari sepenggal bacaan inspiratif tersebut, pemandu dapat mengajak umat untuk memperdalam dan merefleksikannya dalam konteks hidup berimannya dengan pertanyaan sebagai berikut: 

a. Bagaimana tanggapan Anda mengenai himbauan dan ajakan dalam artikel tersebut? 
b. Berdasarkan pengalaman Anda selama ini, kegiatan, wadah, atau ruang apa yang paling Anda anggap cocok untuk menghadirkan diri kita sebagai "terang, garam clan ragi Kristus"? Berikanlah sharing pengalaman Anda? 

C. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan 
Setelah pemandu bersama umat memperdalam dart berbagi pengalaman, pemandu dapat mengajak umat berefleksi melihat kembali kekayaan Dokunien Gereja dan segi Alkitabiah mengenai panggilan Kristen di tengah masyarakat 

1. Kutipan Kitab Suci 
Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Mat 5•13-16 

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah is diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangl semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." 

2. Renungan dan Simpul 
Pendamping dapat menyampaikan point point reflektif untuk memperkaya/ melengkapi sarasehan. 

  • Kepada para murid-Nya, Yesus mengatakan bahwa mereka adalah terang dunia, garam dunia dan ragi. Terang, garam dan ragi adalah kebutuhan setiap orang. Terang dibutuhkan agar orang bisa melihat segala sesuatu dan beraktivitas dengan nyaman untuk kemajuannya. Dalam terang, banyak hal bisa dilakukan untuk mengembangkan diri. Sebaliknya dalam gelap, segala sesuatu menjadi sangat terbatas. Garam adalah salah satu unsur penting ketika orang membuat makanan. Segala makanan banyak dicampuri garam. Garam menambah rasa enak setiap makanan yang diolah. Tentu garam harus larut dalam seluruh makanan dan tidak boleh berlebihan untuk menjaga rasa tetap terjaga. Akhirnya ragi. Ragi adalah bahan untuk fregmentasi, banyak digunakan untuk membuat tape dan tampe. Ragi itu yang membuat perubahan bahan dasar menjadi bahan yang diinginkan. Tanpa ragi tidak ada tempe dan tape. Maka ragi menjadi unsur penting. 
  • Apa artinya kalau Yesus menggunakan istilah terang, garam dan ragi untuk hidup kita? Sesuai dengan makna dan fungsi masing-masing, diharapkan hidup kita juga seperti terang, garam dan juga ragi ketika ada di tengah orang banyak, terutama dalam masyarakat. Menjadi terang berarti hidup kita bisa menjadi terang, inspirasi, teladan dengan nilai-nilai hidup yang kita hayati. Jangan sampai kata, pikiran dan perbuatan kita malah menjadi batu sandungan dan menimbulkan keprihatinan masyarakat. Media sosial mesti bermanfaat untuk menyampaikan nilai-nilai yang baik, yang positif, yang bermanfaat dan mempersatukan satu sama lain, jangan sampai malah dipakai untuk menyebarkan ujaran kebencian, kebohongan dan ujaran yang bernada negatif yang memperkeruh relasi dan hidup bersama. 
  • Demikian juga ketika jadi garam dan ragi masyarakat. Kita dipanggil untuk hadir, terlibat dan menjadi bagian dari masyarakat. Kita tidak cukup hanya hidup di tengah masyarakat, tetapi menutup pintu, banyak di rumah atau malah banyak pergi sehingga tidak banyak hadir dan terlibat dalam masyarakat. Sumbangan dan partisipasi dalam bentuk uang tidaklah cukup. Kita mesti hadir dan terlibat untuk menjadi berkat. 
  • Dalam keterlibatan itulah peran garam dan ragi muncul. Kita turut memberi warna dan nilai lebih pada kehidupan bermasyarakat agar masyarakat lebih sejahtera, bermartabat dan beriman. Kiranya banyak nilai-nilai injil yang baik untuk dihadirkan dalam masyarakat: nilai kasih, peduli, melayani, memberitakan kabar bath, jangan membenci, bersikap lembut dan murah hati, bersemangat miskin, cinta damai, dll. 

D. Penegasan Bersama dan Penutup 
Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan! 

1. Pengendapan 
Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hefting sejenak dalam batin selama kurang lebih, 5-10 menit. 

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi: 
Mari kita bertanya kepada dirt kita sendiri, sejauh mana kita telah hidup sebagai garam dan terang dunia? Sudahkah kita "cukup asin" untuk menggarami, dan "cukup terang" untuk menerangi sekitar kita? 

Ajakan untuk berdoa: 
Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita untuk hidup sesuai panggilan iman kita, yaitu menjadi garam, terang dan dan terang bagi masyarakat sekitar kita. Berdoalah agar melalui hidup kita, orang-orang di sekitar kita dapat semakin melihat Kemuliaan Allah. Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa "Bapa Kami".


2. Doa Penutup (Lih. PS 221) 
Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai. 
Bila terjadi kebencian, 
Jadikanlah aku pembawa cinatkasih. 
Bila terjadi penghinaan, 
Jadikanlah aku pembawa pengampunan 
Bila terjadi perselisihan, 
Jadikanlah aku pembawa kerukunan. 
Bila terjadi kebimbangan, 
Jadikanlah aku pembawa kepastian. 
Bila terjadi kesesatan 
Jadikanlah aku pembawa kebenaran. 
Bila terjadi kecemasan, 
Jadikanlah pembawa harapan 
Bila terjadi kesedihan, 
Jadikanlah aku sumber kegembiraan. 
Bila terjadi kegelapan, 
Jadikanlah aku pembawa terang. 
Tuhan, semoga aku lebih mengibur daripada dihibur 
Memahami daripada dipahami, 
Mencintai daripada dicintai. 
Sebab dengan memberi aku menerima, 
Dengan mengampuni aku diampuni, 
Dengan mati suci aku bangkit lagi, 
Untuk hidup selama-lamanya. 

3. Nyanyian Penutup 
Pemandu dapat menutup pertemuan dengan lagu yang sesuai



Sarasehan Ketiga
MEWUJUDKAN NILAI-NILAI PANCASILA

Tujuan

Umat mewujudkan panggilan Kristus menjadi terang, garam dan ragi dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat 

Pra Wacana Pertemuan 
Pancasila merupakan dasar filosofis bangsa yang menyatukan segenap masyarakat Indonesia. Gereja katolik Indonesia menjadi bagian dari bangsa dan negara Indonesia wajib menjunjung tinggi Dasar Negara Indonesia ini. Gereja katolik bersungguh-sungguh menerima Pancasila bukan hanya sebagai sarana pemersatu, melainkan juga sebagai ungkapan nilai-nilai dasar hidup bernegara, yang memang telah berakar sejak lama dalam budaya dan sejarah bangsa Indonesia. Nilai-nilai Pancasila dapat menjadi penerang dan penunjuk arah guna tercapainya tujuan bangsa Indonesia. Pancasila menghadirkan nilai-nilai dasar hidup manusiawi, sejalan dengan nilai yang dikemukakan oleh ajaran dan pandangan Gereja Katolik. Pancasila akan semakin bermakna bagi kehidupan bangsa dan sebagai umat Katolik Indonesia jika dihayati sebagai nilai-nilai yang diamalkan dan diperjuangkan terus menerus dalam lingkup terkecil sekalipun. Gereja diutus untuk menjadi promotor memajukan pemahaman dan penghayatan Pancasila secara baik dan benar. 

Langkah Proses Pertemuan 
A. Pembuka 
1. Nyanyian Pembuka 
Pemandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu yang memberikan semangat kebangsaan, baik lagu nasional maupun lagu rohani yang sesuai. 

2. Doa Pembuka 
Doa ini hanya salah satu alterantif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat. 
Allah Bapa yang Maha Kuasa, kami bersyukur bahwa para pendiri negara dan bangsa memilih Pancasila sebagai dasar negara kami. Dasar negara yang dapat menaungi semua golongan dan kelompok yang hidup bersama-sama memajukan bangsa kami. Untuk itu Tuhan, bantu kami dengan kekuatan Roh Kudus-Mu sendiri untuk semakin mampu menghadirkan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan di tengah-tengah Bangsa kami. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

3. Penyalaan lilin Korona 
Setelah doa pembuka, pemandu mengajak umat untuk rnelanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang ketiga dengan doa. 

P Allah Bapa yang Maha Kasih, kami telah memasuki masa Adven, masa dimana kami menantikan akan kedatangan Putera-Mu terkasih. Kami mohon, semoga HIM adven ini menerangi hati dan menuntun kami untuk menghadirkan Peradaban Kasih bagi sesama, lingkungan dan bangsa kami ini. Semoga dengan bimbingan sabda -Mu kami dapat menggiatkan lingkungan sebagai pusat hidup beriman yang semakin terbuka, mampu berdialog clan membawa perubahan baru dalam masyarakat. Semoga kami dapat menjadikan semua orang untuk semakin sejahtera, bermartabat dan beriman sesuai dengan nilai Pancasila. Akhirnya, kami semakin pintas untuk menyambut Putera-Mu yang lahir di tengah-tengah kami. Permohonan ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, sepanjang segala masa. 

U Amin 

4. Pengantar Pertemuan 
Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan memberikan beberapa catatan sebagai berikut: 
Bapak dan Ibu yang terkasih, melalui pertemuan Adven yang lalu kita diajak untuk menjadi terang, garam dan ragi bagi dunia. Saat ini, salah satu tindakan yang dapat kita lakukan adalah dengan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila. Pancasila telah dipilih oleh para pendiri bangsa sebagai dasar negara yang mengayomi seluruh masyarakat apapun agamanya, apapun golongan dan sukunya. Apakah semua umat yang hadir di sini hafal dengan Pancasila? Bagaimana kita sebagai warga Gereja, ambil bagian dalam merawat dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila? 

B. Inspirasi 
1. Bacaan Inspiratif 
Pemandu mengajak umat untuk membaca sebuah bacaan inspiratif sebagai berikut: 

Nogosari, Secarik Kecil Cerita Desa Pancasila

Ada salah satu desa yang menarik untuk mendapatkan apresiasi dalam hal menerapkan Pancasila sebagai pedoman hidup di Indonesia. Desa itu bernama Desa Nogosari. Desa Nogosari ini terletak di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini memang dikenal memiliki keberagaman latar belakang, baik suku, agama dan status sosial. Namun, walaupun beragam, hal tersebut tidak mempengaruhi semangat nilai Pancasila yang diresapi menjadi pedoman hidup. Nilai-nilai Pancasila diresapi dan dipraktekkan dalam sendi-sendi kehidupan secara sederhana namun mengena. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam sila ini, masyarakat memiliki keberagaman latar belakang dan keyakinan yang saling tidak mempertanyaan ataupun mempermasalahkan keyakinan mereka anut. Sebagai contoh, adanya keterlibatan seluruh masyarakat desa Nogosari dalam pembangunan atau renovasi Masjid. Kemudian, mereka juga bergotong royong memotong daging qurban ketika perayaan hari Raya Idul Adha. 

Tidak hanya nilai sila pertama, Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab juga diresapi dengan cara yang sederhana. Masyarakat di desa ini sering sekali melakukan kunjungan kerumah warga yang sedang sakit. Mereka tidak segan-segan untuk membantu warga yang sedang sakit. Selain itu, masyarakat desa Nogosari membantu proses pemakaman ketika ada warga yang meninggal dunia. Hal yang menarik, tidak adanya batasan-batasan terhadap pemakaman dalam latar belakang agama apapun. 

Desa Nogosari, juga menjunjung semangat Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Desa Nogosari sangat paham betul dalam menerjemahkan persatuan dan kerukunan dalam desa ini. Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan adalah jalan sehat, senam, kemudian perlombaan antar kampung dan dusun dalam berbagai event-event berbangsa. Menurut Untoro, salah satu tokoh masyarakat, "Hal tersebut merupakan ekspresi dan sendi yang sudah lama dibangun di Desa Nogosari, yaitu adanya kerukunan dan persatuan." 

Nilai Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah dan Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan juga senantiasa menjadi sendi dalam memutuskan perkara. Pemilihan ketua RT, ataupun pengurus RW di desa ini senatiasa menggunakan sistem demokrasi, bahkan dalam pemilihan takniir masjid juga menggunakan sistem pencoblosan, tidak memandang agama,apapun. Hal tersebut karena kerukunan dan persatuan yang sudah melekat didalam diri masyarakat desa ini. Akhirnya, Mas Koko, salah satu warga desa Nogosari mengatakan bahwa nilai Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia juga diresapi dengan cara yang sederhana. Ia bercerita bahwa ada sebuah peristiwa yang dulu sempat menimpa mereka, sehingga mendapatkan bantuan yang berlimpah. Hal menarik yang terjadi adalah ketika bebera pa warga yang sudah merasa tidak memerlukan bantuan (tetapi mereka mendapatkannya) warga tersebut memberikannya kembali kepada tetangga-tetangganya yang lebih membutuhkan, karena jiwa sosial di dalam diri warga sudah tertanam sejak dulu. 

Digubah dari Sumber http: / /kanalpengetaltuan.filsafat. ugm.ae. id/ 2018/03/05/ nogosari-dusun-pancasila/ 

2. Pendalaman Bersama 
Dari sepenggal bacaan inspiratif tersebut, pemandu dapat mengajak umat untuk memperdalam don merefleksikannya dalarn konteks hidup berimannya dengan pertanyaan sebagai berikut: 
a. Berdasarkan artikel tersebut, apakah nilai-nilai Pancasila juga dikembangkan di lingkungan Anda selama ini? Berikanlah sharing pengalaman Anda? 
b. Gereja diutus untuk menjadi promotor memajukan pemahaman dan penghayatan Pancasila secara baik dan benar. Apa yang dapat kita lakukan? Berikanlah tanggapan Anda? 

C. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan 
Setelah pemandu bersama umat memperdalam dan berbagi pengalaman, pemandu dapat mengafak umat berefieksi melihat kembali. kekayaan Dokumen Gereja dan segi Alkitabiah mengenai panggilan Kristen di tengah masyarakat 

1. Kutipan Kitab Suci 
Pemandu mengajak untat menyimak bacaan Kitab Suci Luk 10:25-37 

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. " Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan nnggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke alas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih (Jul ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" 

2. Renungan dan Simpul 
Pendamping dapat menyampaikan point point reflektif untuk memperkaya/melengkapi sarasehan 

  • Yesus mengajarkan kepada kita tentang hukum atau pedoman yang mesti ditaati dan dihidupi semua pengikut-Nya. Hukum itu adalah hukum kasih. "Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Ketika ada orang yang bertanya tentang apa yang harus dilakukan, Yesus menyampaikan hukum tersebut. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama saling mengungkapkan dan mewujudkan. Cinta kepada Tuhan terwujud nyata dalam cipta kepada sesama. Cinta kepada sesama juga mesti mengalir dari cintanya kepada Tuhan. 
  • Orang Samaria menjadi contoh dari pelaksanaan hukum kasih tersebut. Ia menolong orang yang sedang menderita sekalipun dia tidak mengenal siapa yang menderita itu. Ia rela kerepotan demi keselamatan sesamanya. Dan merupakan sebuah kebahagiaan baginya ketika ia bisa membantu orang lain. 
  • Bagi kita orang Indonesia, hukum kasih yang diajarkan oleh Yesus sejalan dengan Pancasila yang menjadi pedoman hidup bersama. Dalam Pancasila, kita diajak untuk mengimani, mencintai dan mengabdi Tuhan, sambil juga menghormati keyakinan berbeda. Kasih kepada Tuhan itu lalu terungkap dalam kasih kepada sesama, yang diwujudkan dengan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah demi keadilan dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Pancasila tidak pernah memberi ruang untuk membenci, bertindak tidak adil, bersikap intoleran dan berbuat yang merugikan sesama dan memecahbelah kehidupan bangsa 

D. Penegasan Bersama dan Penutup 
Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan! 

1. Pengendapan 
Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan herring sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit. 

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi: 
Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, sebagai orang Katolik sejauh mana kita telah menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam hidup sehari-hari di tengah masyarakat? 

Ajakan untuk berdoa: 
Berdoalah agar Roh Kudus membantu untuk hidup sesuai panggilan iman kita, yaitu mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat. Berdoalah agar melalui tindakan hidup kita, orang-orang di sekitar kita dapat semakin melihat Kemuliaan Allah.  Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa "Bapa Kami". 

2. Doa Penutup 
Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas panggilan kami untuk semakin menghayati nilai-nilai luhur Pancasila bukan hanya sebagai sarana pemersatu, melainkan juga sebagai ungkapan nilai-nilai dasar hidup bermasyarakat. Bantulah kami agar semakin menjadi saksi-Mu di tengah masyarakat, menjadi orang Katolik yang menjunjung dan merawat nilai-nilai Pancasila. Doa ini kami panjatkan, dalam Tuhan kami Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah Tritunggal, sekarang dan sepanjang segala masa. Amin. 

3. Nyanyian Penutup 
Pernandu dapat menutup perternuan dengan lagu yang sesuat.



Sarasehan Keempat
MEMAJUKAN TATA HIDUP BERSAMA

Tujuan
Umat semakin terlibat dalam memajukan tata hidup bersama berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila dan Injil 

Pra Wacana Pertemuan 
Tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berwajah Pancasila menjadi harapan bagi seluruh warga negara Indonesia. Keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat bukan hanya menjadi cita-cita paling tinggi dari setiap warga negara, namun merupakan salah satu pilar dari semua tatanan hidup bersama dan salah satu jaminan bagi kelestarian tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Negara dan bangsa Indonesia ini sebagai rumah bersama untuk kepentingan hidup semua warga. Maka, semua orang yang menduduki jabatan atau terlibat dalam tata hidup berbangsa dan bernegara hendaknya mengedepankan kepentingan bersama demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Gereja diajak berpartisipasi secara aktif memajukan tata hidup bersama berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila dan Injil. Umat diajak untuk menegaskan kembali kehadiran dan perutusan Gereja di tengah masyarakat Indonesia dengan terlibat secara aktif menghadirkan nilai-nilai kasih Kristus dan mengamalkan Pancasila dalam tata ruang bersama, secara khusus untuk memupuk semangat persatuan, demokratisasi dan kesejateraan. 

Langkah Proses Pertemuan 
A.Pembuka 
1. Nyanyian Pembuka 
Pernandu dapat mengajak peserta membuka dengan lagu-lagu, yang memberikan semangat kebangsaan, balk lagu nasional maupun lagu rohani yang sesuai. 

2. Doa Pembuka 
Doa ini hanya salah satu alternatif, pemandu dapat menyesuaikannya dengan situasi umat. 

Allah Bapa yang Maha Kuasa, kami bersyukur boleh hidup di negara dan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Semoga nilai-nilai luhur Pancasila mendasari seluruh nafas kehidupan warga negara kami, menjadi dasar dalam tata hidup bersama kami. Semoga dalam pertemuan ini, kami semakin Engkau sadarkan untuk semakin menghadirkan kasih Kristus dala tata kehidupan bersama kami. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

3. Penyalaan Jilin Korona 
Setelah doa penibuka, pemandu mengajak umat untuk melanjutkan dengan Penyalaan Lilin Korona Adven yang keempat dengan doa. 

P Allah Bapa yang Maha Kasih, kami telah memasuki masa Adven, masa dimana kami menantikan akan kedatangan Putera-Mu terkasih. Kami mohon, semoga Jilin adven ini menerangi hati dan menuntun kami untuk menghadirkan Peradaban Kasih bagi sesama, lingkungan dan bangsa kami ini. Semoga dengan bimbingan sabda-Mu kami dapat menggiatkan lingkungan sebagai pusat hidup beriman yang semakin terbuka, mampu berdialog dan membawa perubahan baru dalam masyarakat. Semoga kami dapat menjadikan semua orang untuk semakin sejahtera, bermartabat dan beriman sesuai dengan nilai Pancasila. Akhirnya, kami semakin pantas untuk menyambut Putera-Mu yang lahir di tengah-tengah kami. Permohonan ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, sepanjang segala masa. 

U Amin 

4. Pengantar Pertemuan 
Pemandu dapat mengantar pertemuan dengan rnemberikan beberapa catatan sebagai berikut: 

Bapak dan Ibu yang terkasih, kita pernah mendengar pepatah Jawa: "deso mowo cara, negara mowo tata". Pepatah ini mau mengungkapkan bahwa setiap kehidupan bersama perlu dijalankan dalam berbagai aturan agar semuanya menjadi lebih baik. Tata hidup bersama inilah yang akan membawa seluruh warganya menuju pada kesejahteraan bersama. Panggilan untuk berpartisipasi secara aktif memajukan tata hidup bersama berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila dan Injil inilah yang akan kita refleksikan bersama dalam pertemuan Adven keempat ini. 

B. Inspirasi 
1. Bacaan Inspiratif 
Pemandu mengajak umat untuk membaca sebuah bacaan inspiratif sebagai berikut: 

"Siapa yang bilang politik itu jahat atau tidak bagus?"

Mengapa orang Katolik selama ini tidak banyak muncul ke dunia politik? Bukankah dengan terjun ke dunia politik berarti kita ikut memberi garam dan terang dunia? Salah satu kelemahan Gereja Katolik selama ini adalah kurang merespon situasi politik Indonesia dan kaderisasi. Contohnya, setelah era Frans Seda, Cosmas Batubara, dan YB Sumarlin, Gereja Katolik seperti kehabisan stok tokoh Katolik. 

Rama Benny Susetyo Pr mempertanyakan hal itu dalam seminar bertema "Gereja Katolik dalam Pusaran Dunia (Politik): Quo Vadis?" di Gedung Srijaya, Surabaya, 10 Juni 2018 yang dihadiri sekitar 500 peserta.

 "Apakah peran kita (Gereja Katolik) menghadapi situasi semacam itu? Bolehkah rama dan Gereja Katolik berpolitik praktis? Bolehkan umat Katolik ikut berpolitik praktis? Pertanyaan-pertanyaan itu pun diangkat oleh Rama Benny yang saat ini bertugas sebagai Satgas Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam "Gereja dalam Panggung Politik." 

Seraya menghimbau dan memotivasi semua generasi muda Katolik dan umat Katolik untuk terjun di bidang politik, Rama Benny bertanya, "Siapa yang bilang politik itu jahat atau tidak bagus? Politik itu baik!" 

Maka, Rama Benny mengajak umat Katolik untuk "berdiri sejajar dengan yang lain dalam membangun bangsa dan negara" dan mengkritik umat dan rama yang setiap saat hanya sibuk mengurus paroki tapi tidak melihat ke luar. "Kita ini hanya berpikir paroki, hanya sibuk di dalam. Setiap kali yang dipikirkan rapat paroki, tetapi kita tidak berpikir ke luar. Harusnya sebagai umat Katolik, sebagai garam dan terang dunia, kita terjun ke dunia politik juga," tutur imam itu. 

Kelemahan lain umat Katolik adalah tidak saling mengalah dan tidak saling mendukung. "Misalnya dalam satu dapil, harusnya kita berikan kesempatan kepada calon kita yang secara kemampuan luar biasa untuk maju menjadi anggota legislatif. Tetapi yang terjadi apa? Kita malah royokan di dapil itu, sekitar 4-5 orang Katolik di situ. Hasilnya, kita kalah melulu," jelas imam itu. Rama Benny juga melihat Gereja Katolik "tidak menyiapkan pendidikan dan kaderisasi politik" tetapi "hanya sibuk urusan di dalam, bertengkar di dalam, rapatnya paling ramai, jago kandang." Maka. Rama Benny menghimbau peserta seminar untuk mulai belajar dari Romo Van Lit li yang meletakkan dasar Katolik di Jawa. Karena yakin bahwa pewartaan Gereja tidak akan berhasil kalau Gereja tidak menjadi Gereja pribumi, jelas imam itu, "Romo Van Lith awalnya tidak membangun gereja tetapi membangun manusia." 

Awalnya van Lith bukan membangun gereja tetapi sekolah dan kursus-kursus untuk ibu-ibu warga setempat. "Dari inilah muncul tokoh-tokoh Katolik yang nantinya menjadi peletak dasar tokoh-tokoh Katolik yakni tokoh politik, tokoh berpengaruh, karena baru sadar investasi manusia lebih penting." 

Namun saat ini, sebaliknya, investasi tanah dan gedung lebih penting. "Dewan paroki datar-datar saja. Kalau urusan pembangunan gereja umat antusias, kalau urusan kaderisasi umat tidur karena merasa tidak penting." 

Akhirnya, imam itu mengamati, "kita seperti ini, bukan menyiapkan manusia yang mampu menjadi tanda sarana hadirnya Allah itu, karena keberhasilan diukur dari materi bukan kualitas manusianya. Bagaimana Gereja bisa hadir menjadi ajur ajer, menjadi terang dan garam dunia, itu tidak pernah dipikirkan." 

Sumber: 
https: / / penakatolik.com/ 2018/ 06/ 2 1 / rama-benny-susetyo-siapa-yang -bilang poli,tik itu jahat-atau-tidak-bagus-poli.tik-itu-baik/ 

2. Pendalaman Bersama 
Dari sepenggal bacaan inspiratif tersebut, pemandu dapat mengajak umat untuk memperdalam dan merefleksikannya dalam konteks hidup berimannya dengan pertanyaan sebagai berikut: 
a. Bagaimana tanggapan Anda dengan kritikan Romo Benny "Dewan paroki datar-datar saja. Kalau urusan pembangunan gereja umat antusias, kalau urusan kaderisasi umat tidur karena merasa tidak penting." Berikanlah tanggapan Anda 
b. Menurut Anda, apa yang dapat kita lakukan untuk ikut serta terlibat dalam memajukan tata hidup bersama? Berikanlah tanggapan Anda? 

C. Refleksi Kateketis dan Simpul Pertemuan 
Setelah pemandu bersama umat memperdalam dan berbagi pengalantan, pemandu dapat mengajak umat berefleksi melihat kembali kekayaan Dokunten Gereja dan segi Alkitabiah mengenai panggilan Kristen di tengah masyarakat 

1. Kutipan Kitab Suci 
Pemandu mengajak umat menyimak bacaan Kitab Suci Mat 21:12-17 

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah clan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujiza t yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud! " hati mereka sangat jengkel, lalu mereka berkata kepada-Nya: "Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian? "lu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ. 

2. Renungan dan Simpul 
Pendamping dapat menyampaikan point point reflektif untuk memperkaya/ melengkapi sarasehan 
  • Bacaan Injil mengisahkan Yesus yapg marah karena bait Allah yang menjadi rumah doa, rumah bergama menghadap Tuhan jadikan tempat berdagang, mencari keuntungan diri sendiri oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat seka seluruh kenalan mereka. Yesus marah .karena mereka berlaku tidak adil. .flewan persembahan dimonopoli,. harga dimahalkan dan peribadatan diperdagangkan. Akibatnya orang-orang sederhana tidak bisa membelinya. 
  • Ulah mereka menjadikan bait Allah menjadi sarang penyamun. Di Bait Allah, mereka bukannya untuk berdoa, bersembah sujud pada Tuhan dan melayani sesama, tetapi justru berdagang, mencari keuntungan di atas kesengsaraan banyak orang. Jabatan mereka bukannya melayani tetapi malah dimanfaatkan untuk mencari keuntungan diri. Mereka yang mestinya dipercaya untuk menjaga kesucian bait Allah, membawa umat pada Tuhan dan membantu umat mengalami kepenuhan hidup rohani, ternyata justru malah berbuat yang sebaliknya. Karena itu, Yesus tidak segan-segan membalikkan meja-meja penukar uang clan bangku-bangku pedangan merpati. Yesus tidak menghendaki kebiasaan menyalahgunakan bait Suci itu terus terjadi dan menyengsarakan banyak orang. Dia siap Dirinya menjadi yang terdepan untuk menyucikan kembali bait, Allah, sekalipun sikapnya itu mendatangkan resiko bagi kehidupan-Nya. 
  • Peristiwa yang dihadapi oleh Yesus Kristus itu bisa menjadi refleksi kita bersama. Negara dan pemerintahan adalah rumah bersama seluruh warga. Orang-orang dipilih dan menduduki aneka jabatan untuk melayani warga masyarakat clan mengusahakan agar masyarakat hidup sejahtera baik secara rohani maupun secara jasmani, baik secara personal maupun sosial. Jabatan itu adalah amanah dari Tuhan dan dari masyarakat untuk menyempurnakan kehidupan bersama dan mengusahakan tata hidup bersama yang adil dan sejahtera. Namun sering terjadi mereka yang diberi amanah, bertingkah yang salah. Ada yang korupsi, ada yang mempunyai kepentingan diri, ada Pula yang tidak mengabdi dengan tulus hati. Pendek kata, mereka telah mencermarkan kesucian pemerintahan. 
  • Melalui bacaan ini, kita diajak bukan hanya untuk marah, mengkritik dan berdiam diri. Yesus menghendaki agar kita berbuat sesuatu bagi tertatanya kehidupan bersama yang lebih adil, sejahtera dan demokratis. Menjadi orang baik saja tidak cukup, kita panggil juga untuk memperbaiki tata hidup bersama kita, terutama dari kejahatan struktural. Maka kontribusi kita ditunggu untuk menjadikan lingkungan masyarakat kita menjadi lebih baik. Sumbangan pemikiran dan tenaga untuk masyarakat perlu disediakan di tengah kesibukan kita masing-masing. Jangan sampai rumah kita bersama menjadi sarang penyamun

D. Penegasan Bersama dan Penutup 
Pemandu mengajak pribadi, keluarga atau lingkungan untuk membuat niat dan aksi-aksi nyata yang bisa dilaksanakan secara konkret oleh pribadi atau lingkungan! 

1. Pengendapan 
Pemandu mengajak umat membuat pengendapan dengan hening sejenak dalam batin selama kurang lebih 5-10 menit. 

Ajakan untuk meresapkan secara batin pribadi: 
Ada sepenggal kutipan dari Surat Yakobus 1:23-24, yang menyatakan "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya."?. Bagaimanakah diri Anda, apakah hanya sekedar marah, mengkritik dan berdiam diri. Yesus menghendaki agar Anda berbuat sesuatu bagi tertatanya kehidupan bersama yang lebih adil, sejahtera dan demokratis. 

Ajakan untuk berdoa: 
Berdoalah agar Roh Kudus membantu kita untuk hidup sesuai panggilan iman kita, yaitu terlibat dalam memajukan tata hidup bersama. Kita satukan dalam doa yang diajarkan Kristus sendiri yakni doa "Bapa Kami". 

2. Doa Penutup 
Bapa yang Maha Rahim dan Bijaksana, kami bersyukur karena semakin Engkau sadarkan, akan tugas panggilan iman kami untuk semakin menghadirkan Kristus dalam keterlibatan bermasyarakat dengan memajukan tata hidup bersama. Semoga kami dapat menjadi orang Katolik yang mampu melaksanakan secara bebas dan bertanggungjawab mewujudkan kesejahteraan bersama dengan lebih bermartabat dan dengan semangat iman akan Kristus. Akhirnya, kami semakin Engkau pantaskan menyambut kelahiran Yesus Kristus dalam perayaan Natal nanti. Demi Kristus Tuhan kami. Amin. 

3. Nyanyian Penutup 
Pemandu dapat menutup pertemuan dengan lagu yang sesuai.


Share on Google Plus

About Paroki Nandan

0 komentar:

Posting Komentar